WHO Turun Tangan Atasi Polio di Purwakarta

- 26 Maret 2023, 20:46 WIB
BUPATI Purwakarta Anne Ratna Mustika (baju hitam-putih) dalam kegiatan imunisasi di Kantor Dinas Kesehatan setempat, Minggu (26/3/2023). Penanganan penyebaran kasus polio di Purwakarta melibatkan Kementerian Kesehatan hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BUPATI Purwakarta Anne Ratna Mustika (baju hitam-putih) dalam kegiatan imunisasi di Kantor Dinas Kesehatan setempat, Minggu (26/3/2023). Penanganan penyebaran kasus polio di Purwakarta melibatkan Kementerian Kesehatan hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). /Hilmi Abdul Halim/

KORAN PR-Penanganan penyebaran virus polio di Kabupaten Purwakarta melibatkan Kementerian Kesehatan hingga Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Tim gabungan hingga saat ini telah mengambil sekitar 30 sampel dari anak-anak menyusul penemuan satu kasus positif polio beberapa waktu lalu.

 "Kami juga akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya imunisasi lengkap bagi anak," ujar Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, Minggu 26 Maret 2023.

Kemunculan kasus positif polio untuk pertama kali ini diakui menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah setempat. Anne berjanji akan menindaklanjuti arahan dari Kementerian Kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit polio di daerahnya.

Salah satu arahan itu adalah mengirimkan sampel feses atau tinja dari penderita lumpuh layuh atau Acute Flaccid Paralysis (AFP) ke Kemenkes. Selain itu, Anne menginstruksikan jajarannya untuk melakukan imunisasi dan melarang masyarakat buang air besar (BAB) sembarangan.

“Usahakan BAB di jamban yang sehat terstandar, dan tentu saja juga mau mengikuti imunisasi polio tetes serempak," kata Anne saat ditemui di sela-sela kegiatan sosialisasi yang digelar di Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta.

Penyakit polio diketahui menyebar melalui perpindahan partikel virus dari feses orang yang sudah terserang polio. Karena itu, ia mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan cara mencuci tangan pakai sabun.

Polio tipe 2

Sementara itu, Ketua Tim Surveilans Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dewi Ambarwati mengklaim kasus polio di Purwakarta diketahui seiring dengan gencarnya upaya penemuan. "Dari sampel yang dikirim pada 14 Maret 2023, Dinkes Jabar dan Dinkes Purwakarta mendapatkan laporan hasilnya positif virus polio tipe 2 VDVP,” katanya.

Dari hasil penelusuran, pasien positif polio itu adalah seorang anak perempuan berusia empat tahun lima bulan dari Kampung Cadas Bodas, Desa Tegal Datar, Kecamatan Maniis. Penemuan itu pun dinilai mengejutkan karena berbeda dari hasil uji sampel dari 19 daerah pada 2022.

“Dari semua sampel tinja yang dikirim tahun 2022 tidak ada yang positif baik virus polio tipe 1,2, maupun 3,” ujarnya menegaskan. Namun, dari 19 daerah yang mengirimkan sampel itu tidak termasuk Kabupaten Purwakarta.

Ke-19 daerah itu adalah Kabupaten Cirebon, Indramayu, Subang, Garut, Kuningan, Tasikmalaya, Bekasi, Bandung Barat, Pangandaran, Majalengka, Sumedang, Ciamis, Karawang. Kemudian, Kota Cirebon, Sukabumi, Banjar, Bekasi, Bogor dan Bandung. 

Lebih lanjut, tim gabungan itu diketahui telah mendatangi Desa Tegal Datar Kecamatan Maniis untuk penyelidikan epidemiologi polio. Sesuai rekomendasi tim ahli tersebut, petugas memutuskan untuk mengambil sampel anak-anak di sekitar lokasi penemuan kasus polio di Purwakarta.

Tindakan tersebut diakui berdasarkan pengalaman penanganan kejadian serupa di Aceh, sebelumnya. “(Tujuannya) untuk melihat apakah sudah ada sirkulasi virus dan terpapar pada anak sekitar tetapi tidak sakit,” kata Dewi.

Tindakan kedua adalah skrining dari rumah ke rumah untuk mencari suspek AFP, dan melihat situasi kesehatan anak-anak mulai dari riwayat imunisasi, kesehatan lingkungan, dan lain-lain. Dewi menyebut tim tersebut telah berhasil mewawancarai 261 kepala keluarga dari target 200 rumah hingga 17 Maret 2023.

Selanjutnya, tim tersebut juga merujuk pasien suspek polio di Desa Tegal Datar ke RS Hasan Sadikin untuk diperiksa lebih intensif. Adapun yang keempat, melakukan edukasi dan meningkatkan kapasitas puskesmas dan rumah sakit di Purwakarta.

Terakhir, pencegahan penyebaran kasus melalui Outbreak Respon Imunization (ORI). “Yakni imunisasi polio tetes tipe dua atau lebih dikenal dengan Sub PIN pada semua anak di bawah usia lima tahun, di seluruh kabupaten dan kota yang memiliki peta risiko tinggi polio,” tutur Dewi.***

 

Editor: Nuryani


Tags

Terkini

x